Sesungguhnya Allah Subhanahu wa Ta’ala tidak menciptakan manusia tanpa maksud dan tujuan yang jelas. Ia tidak membiarkan mereka begitu saja tanpa pertanggungjawaban. Allah Subhanahu wa Ta’ala menciptakan mereka untuk misi besar dan tugas penting yang pernah ditawarkan kepada seluruh langit, bumi dan gunung, kemudia mereka menolak amanah tersebut dan merasa tidak sanggup mengembannya. Mereka berkata, “Wahai Tuhan kami, jika Engkan member perintah kepada kami, maka kami akan mendengar dan mentaati perintah tersebut. Jika Engkau memberi dua pilihan kepada kami, maka kami lebih suka akan ampunanMu dan kami lebih menghendakinya daripada selainnya”.
Kemudian amanah tersebut Ia alihkan dan bebankan kepada manusia kendati sebenarnya manusia lemah dan tidak kuat memikulnya. Allah subhanahu wa ta’ala menghukum manusia karena kezalimannya dan kebodohannya. Sebagian besar manusia membuang amanah tersebut dari pundaknya karena merasa keberatan. Lantas mereka hidup di dunia seperti ternak yang tidak pernah berusaha mengetahui siapa yang menciptakannya dan apa-apa hak Allahu subhanahu wa ta’ala atas mereka serta maksud dan tujuan Allah subhanahu wa ta’ala menciptakan mereka dan mengeluarkan mereka ke dunia yang merupakan jalan menuju alam keabadian.
Mereka tidak pernah memikirkan posisi mereka yang rendah di dunia yang fana ini, dan begitu cepatnya kepindahan mereka kepada akhirat yang abadi. Mereka didominasi oleh dorongan perasaaannya. Akal mereka telah hilang. Mareka diliputi oleh kelengahan dan mimpi-mimpi kosong dan bujuk rayu yang palsu. Mereka terpedaya oleh angan-angan yang panjang. Tindakan maksiat membuat hati mereka berkarat. Kemudian perhatian mereka hanya tertuju kepada kenikmatan dunia dan nafsu syahwat.
Di mana pun kenikmatan berada, dan dari mana pun sumbernya, mereka langsung merebutnya. Apabila keuntungan dunia terlihat oleh mereka, maka tanpa menunggu waktu mereka langsung terbang sigap ke arahnya secara bersama atau sendiri-sendiri. Apabila fasilitas dunia ditawarkan kepada mareka, maka mereka menerimanya dan mengeyampingkan pahala dan keridhaan Allah subhabahu wa ta’ala.
Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,
“Mereka hanya mengetahui yang lahir (saja) dari kehidupan dunia, sedang mereka tentang (kehidupan) akhirat adalah lalai” [Ar-Ruum : 07]
“Mereka lupa kepada Allah, lalu Allah menjadikan mereka lupa kepada diri mereka sendiri. Mereka itulah orang-orang yang fasik” [Al-Hasyr : 19]
Yang paling menggelikan adalah kelalaian mereka terhadap usia yang telah dijatahkan kepada mereka. Setiap nafas yang keluar dari hidung mereka tidak ada artinya bagi mereka karena ia tidak akan kembali kepadanya. Malam dan siang berjalan dengan cepat kepadanya, sementara ia tidak pernah berfikir akan ke mana ia dibawa dan ditarik dengan cepat melebihi pergerakan kecepatan angin. Ia tidak tahu ke tempat manakah ia akan dipindahkan?
Jika ajal menjemputnya, ia terperangah dan panik karena kehilangan jati diri dan bukannya takut akan dosa-dosa dan pelanggaran-pelanggaran yang telah ia perbuat. Ia tidak menghargai kehidupannya. Apabila terlintas pikiran tentang tujuan penciptaan dirinya, maka ia akan membuang seketika karena terlanjur percaya akan adanya ampunan Allah subhanahu wa ta’ala. Ia berkata bahwa kami telah diberi tahu bahwa Allah Maha Pengampun dan Maha Penyayang. Sepertinya ia tidak pernah tahu bahwa siksa Allah subhanahu wa ta’ala itu sangat pedih.
Sebaliknya, orang-orang yang mengetahui tujuan penciptaannya dan apa yang diinginkan Allah subhanahu wa ta’ala dengan keberadaan mereka di dunia, maka mereka mendongakkan kepalanya ke langit kemudian terlihat oleh mereka bahwa syurga telah dibangun untuk mereka lantas mereka bersemangat berjalan menuju ke arahnya. Terlihat pula oleh mereka bahwa jalan syurga yang lurus ini telah dijelaskan kepada mereka lalu mereka konsekwen meniti jalan tersebut. Mereka melihat bahwa puncak kebodohan adalah menjual kenitmatan-kenikmatan yang tidak pernah dilihat oleh mata, tidak pernah didengar oleh telinga, tidak pernah terlintas dalam benak manusia serta abadi dan tidak pernah habis, dengan secuil kehidupan.
Sikap yang demikian adalah ibarat mimpi yang kacau dan susah ditakwilkan, atau ibarat khayalan yang muncul oada saat tidur yang penuh dengan kesusahan dan kesulitan. Sungguh aneh, orang bodoh yang berkedok pandai, orang tidak waras yang berpenampilan intelek. Ia lebih mementingkan kenikmatan yang fana dan murahan daripada kenikmatan abadi dan bernilai tinggi. Ia menjual syurga yang luasnya seulas langit dan bumi dengan penjara yang sempit dan pengap, yang dihuni oleh orang-orang bermasalah. Ia menukar istana-istana mewah di syurga-syurga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai dengan kandang sempit yang kemudian hancur menjadi puing-puing.
Ia tukar huurun ‘iin yang abkaar, penuh kecintaan dan sebaya umurnya yang bagaikan untaian perhiasan dari untaian mutiara, dengan wanita-wanita yang najis, tidak bermoral, melacur diri dan bergonta-ganti pasangan. Ia menukar wanita yang juwita dalam kemah-kemah dengan wanita yang merusak moral manusia. Ia menukar sungai-sungai yang seperti khamr dan menyegarkan bagi peminumnya dengan minuman najis yang merusak akal, dunia dan agama. Ia menukar kenikmatan melihat wajah Allah Yang Maha Perkasa dan Maha Penyayang dengan melihat wajah wanita (dunia) yang jelek lagi buruk. Ia menukar keindahan mendengar suara Ar-Rahman dengan suara seruling, musik dan puisi. Ia menukar duduk di member yang terbuat dari mutiara dan intan dengan duduk-duduk di tempat-tempat kemaksiatan bersama syetan pembangkang. Ia menukar suara penyeru,
“Wahai penghuni syurga, kalian di syurga ini tetap dalam kenikmatan, dan tidak pernah terputus.
Kalian hidup terus dan tidak akan mati.
Kalian tinggal di sini sini selamanya, dan tidak akan berpindah tempat.
Dan kalian muda terus dan tidak pernah tua.”
Dengan lantunan lagu artis,
“Hawa nafsu berhenti sejenak di depanku, seperti Anda
hingga aku tidak mampu mundur dan maju daripadanya
Kulihat kecaman diarahkan kepada hawa nafsumu karena
kenikmatan cinta, ingat kepadamu
Maka silakan tujukan kecaman kepadaku”
Ketololan menjual itu semua terlihat pada hari kiamat dan ketidakwarasan penjualnya tampak pada hati yang penuh dengan penyesalan tersebut. Ketika orang-orang yang bertakwa dikumpulkan di hadapan Allah subhanahu wa ta’ala sebagai duta dan orang-orang jahat digiring ke dalam Neraka Jahannam dalam keadaan dahaga.
Penyeru memanggil di hadapan seluruh makhluk bahwa sekarang tibalah saat pembuktian siapa siapa sebenarnya yang mendapatkan kemuliaan. Apabila orang yang minus amal-amal shalih membayangkan gambaran kenikmatan berupa kemuliaan dan karunia yang disiapkan Allah subhanahu wa ta’ala kepada mereka , dan huurun ‘iin yang tidak pernah dilihat oleh mata, didengar oleh telinga dan tidak terlintas dalam pemikiran manusia yang disiapkan untuk mereka. Maka ia tahu, apa sesungguhnya perniagaan yang telah hilang dari sisinya. Bahwa perniagaan seperti di atas tidak menguntungkan bagi kehidupannya dan bahwa ia tidak lebih dari sampah yang menjijikkan dan memuakkan. Mereka tahu bahwa mereka telah berada di tengah-tengah Raja Yang Maha Besar yang sempurna dan tidak punya cacat serta tidak mati. Mereka berbahagia dengan kenikmatan hidup di samping Dzat Yang Maha BEsar dan Maha Agung.
Mereka mondar-mandir mengelilingi taman-taman syurga. Mereka duduk dengan senyum girang di kamar pengantin. Mereka bersandar di atas permadani yang sebelah dalamnya terbuat dari sutra. Mereka bersuka ria dengan huur yang bermata jeli. Memakan bermacam-macam buah-buahan. Mereka dikelilingi pemuda-pemuda tampan yang akan tetap muda, yang membawa berbagai gelas, cerek dan sloki berisi minuman yang diambil dari air yang mengalir. Mereka tidak pening karenanya, dan tidak pula mabuk. Buah-buahan dari apa yang mereka pilih. Dan daging burung yang mereka inginkan. Dan di dalam syurga itu terdapat huur yang bermata jeli, laksana mutiara yang tersimpan baik. Sebagai balasan dari apa yang mereka kerjakan. Diedarkan kepada mereka piring-piring dari emas dan piala-piala (tempat minum). Dan di dalam syurga itu terdapat apa saja yang diinginkan oleh hati dan sedap (dipandang oleh) mata, dan kalian kekal di dalamnya.
Demi Allah, dia dipanggil ke dalam syurga di pasar yang sepi. Tapi tidak banyak hamba-hamba Allah subhanahu wa ta’ala yang melirik kepadanya dan menanyakan harganya! Sungguh tidak masuk akal, bagaimana orang yang merindukan syurga bisa tidur nyenyak? Bagaimana pelamarnya tidak menyiapkan maharnya? Bagaimana kehidupannya di dunia ini tentram setelah ia mendengar seluk beluk tentang syurga ini? Bagaimana orang yang menaruh cinta kepada syurga bisa tenang….? Bagaimana jiwa orang-orang yang yakin bisa bersabar terhadap mereka? Bagaimana hati sebagian besar manusia tega berpaling daripadanya? Dan dengan apa orang-orang yang berpaling dan menjauh dari agama Allah subhanahu wa ta’ala menebus syurga tersebut?
[Tamasya Ke Syurga, Ibnul Qayyim Al-Jauziyah, Darul Falah Jakarta, 1425 H]
Kemudian amanah tersebut Ia alihkan dan bebankan kepada manusia kendati sebenarnya manusia lemah dan tidak kuat memikulnya. Allah subhanahu wa ta’ala menghukum manusia karena kezalimannya dan kebodohannya. Sebagian besar manusia membuang amanah tersebut dari pundaknya karena merasa keberatan. Lantas mereka hidup di dunia seperti ternak yang tidak pernah berusaha mengetahui siapa yang menciptakannya dan apa-apa hak Allahu subhanahu wa ta’ala atas mereka serta maksud dan tujuan Allah subhanahu wa ta’ala menciptakan mereka dan mengeluarkan mereka ke dunia yang merupakan jalan menuju alam keabadian.
Mereka tidak pernah memikirkan posisi mereka yang rendah di dunia yang fana ini, dan begitu cepatnya kepindahan mereka kepada akhirat yang abadi. Mereka didominasi oleh dorongan perasaaannya. Akal mereka telah hilang. Mareka diliputi oleh kelengahan dan mimpi-mimpi kosong dan bujuk rayu yang palsu. Mereka terpedaya oleh angan-angan yang panjang. Tindakan maksiat membuat hati mereka berkarat. Kemudian perhatian mereka hanya tertuju kepada kenikmatan dunia dan nafsu syahwat.
Di mana pun kenikmatan berada, dan dari mana pun sumbernya, mereka langsung merebutnya. Apabila keuntungan dunia terlihat oleh mereka, maka tanpa menunggu waktu mereka langsung terbang sigap ke arahnya secara bersama atau sendiri-sendiri. Apabila fasilitas dunia ditawarkan kepada mareka, maka mereka menerimanya dan mengeyampingkan pahala dan keridhaan Allah subhabahu wa ta’ala.
Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,
“Mereka hanya mengetahui yang lahir (saja) dari kehidupan dunia, sedang mereka tentang (kehidupan) akhirat adalah lalai” [Ar-Ruum : 07]
“Mereka lupa kepada Allah, lalu Allah menjadikan mereka lupa kepada diri mereka sendiri. Mereka itulah orang-orang yang fasik” [Al-Hasyr : 19]
Yang paling menggelikan adalah kelalaian mereka terhadap usia yang telah dijatahkan kepada mereka. Setiap nafas yang keluar dari hidung mereka tidak ada artinya bagi mereka karena ia tidak akan kembali kepadanya. Malam dan siang berjalan dengan cepat kepadanya, sementara ia tidak pernah berfikir akan ke mana ia dibawa dan ditarik dengan cepat melebihi pergerakan kecepatan angin. Ia tidak tahu ke tempat manakah ia akan dipindahkan?
Jika ajal menjemputnya, ia terperangah dan panik karena kehilangan jati diri dan bukannya takut akan dosa-dosa dan pelanggaran-pelanggaran yang telah ia perbuat. Ia tidak menghargai kehidupannya. Apabila terlintas pikiran tentang tujuan penciptaan dirinya, maka ia akan membuang seketika karena terlanjur percaya akan adanya ampunan Allah subhanahu wa ta’ala. Ia berkata bahwa kami telah diberi tahu bahwa Allah Maha Pengampun dan Maha Penyayang. Sepertinya ia tidak pernah tahu bahwa siksa Allah subhanahu wa ta’ala itu sangat pedih.
Sebaliknya, orang-orang yang mengetahui tujuan penciptaannya dan apa yang diinginkan Allah subhanahu wa ta’ala dengan keberadaan mereka di dunia, maka mereka mendongakkan kepalanya ke langit kemudian terlihat oleh mereka bahwa syurga telah dibangun untuk mereka lantas mereka bersemangat berjalan menuju ke arahnya. Terlihat pula oleh mereka bahwa jalan syurga yang lurus ini telah dijelaskan kepada mereka lalu mereka konsekwen meniti jalan tersebut. Mereka melihat bahwa puncak kebodohan adalah menjual kenitmatan-kenikmatan yang tidak pernah dilihat oleh mata, tidak pernah didengar oleh telinga, tidak pernah terlintas dalam benak manusia serta abadi dan tidak pernah habis, dengan secuil kehidupan.
Sikap yang demikian adalah ibarat mimpi yang kacau dan susah ditakwilkan, atau ibarat khayalan yang muncul oada saat tidur yang penuh dengan kesusahan dan kesulitan. Sungguh aneh, orang bodoh yang berkedok pandai, orang tidak waras yang berpenampilan intelek. Ia lebih mementingkan kenikmatan yang fana dan murahan daripada kenikmatan abadi dan bernilai tinggi. Ia menjual syurga yang luasnya seulas langit dan bumi dengan penjara yang sempit dan pengap, yang dihuni oleh orang-orang bermasalah. Ia menukar istana-istana mewah di syurga-syurga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai dengan kandang sempit yang kemudian hancur menjadi puing-puing.
Ia tukar huurun ‘iin yang abkaar, penuh kecintaan dan sebaya umurnya yang bagaikan untaian perhiasan dari untaian mutiara, dengan wanita-wanita yang najis, tidak bermoral, melacur diri dan bergonta-ganti pasangan. Ia menukar wanita yang juwita dalam kemah-kemah dengan wanita yang merusak moral manusia. Ia menukar sungai-sungai yang seperti khamr dan menyegarkan bagi peminumnya dengan minuman najis yang merusak akal, dunia dan agama. Ia menukar kenikmatan melihat wajah Allah Yang Maha Perkasa dan Maha Penyayang dengan melihat wajah wanita (dunia) yang jelek lagi buruk. Ia menukar keindahan mendengar suara Ar-Rahman dengan suara seruling, musik dan puisi. Ia menukar duduk di member yang terbuat dari mutiara dan intan dengan duduk-duduk di tempat-tempat kemaksiatan bersama syetan pembangkang. Ia menukar suara penyeru,
“Wahai penghuni syurga, kalian di syurga ini tetap dalam kenikmatan, dan tidak pernah terputus.
Kalian hidup terus dan tidak akan mati.
Kalian tinggal di sini sini selamanya, dan tidak akan berpindah tempat.
Dan kalian muda terus dan tidak pernah tua.”
Dengan lantunan lagu artis,
“Hawa nafsu berhenti sejenak di depanku, seperti Anda
hingga aku tidak mampu mundur dan maju daripadanya
Kulihat kecaman diarahkan kepada hawa nafsumu karena
kenikmatan cinta, ingat kepadamu
Maka silakan tujukan kecaman kepadaku”
Ketololan menjual itu semua terlihat pada hari kiamat dan ketidakwarasan penjualnya tampak pada hati yang penuh dengan penyesalan tersebut. Ketika orang-orang yang bertakwa dikumpulkan di hadapan Allah subhanahu wa ta’ala sebagai duta dan orang-orang jahat digiring ke dalam Neraka Jahannam dalam keadaan dahaga.
Penyeru memanggil di hadapan seluruh makhluk bahwa sekarang tibalah saat pembuktian siapa siapa sebenarnya yang mendapatkan kemuliaan. Apabila orang yang minus amal-amal shalih membayangkan gambaran kenikmatan berupa kemuliaan dan karunia yang disiapkan Allah subhanahu wa ta’ala kepada mereka , dan huurun ‘iin yang tidak pernah dilihat oleh mata, didengar oleh telinga dan tidak terlintas dalam pemikiran manusia yang disiapkan untuk mereka. Maka ia tahu, apa sesungguhnya perniagaan yang telah hilang dari sisinya. Bahwa perniagaan seperti di atas tidak menguntungkan bagi kehidupannya dan bahwa ia tidak lebih dari sampah yang menjijikkan dan memuakkan. Mereka tahu bahwa mereka telah berada di tengah-tengah Raja Yang Maha Besar yang sempurna dan tidak punya cacat serta tidak mati. Mereka berbahagia dengan kenikmatan hidup di samping Dzat Yang Maha BEsar dan Maha Agung.
Mereka mondar-mandir mengelilingi taman-taman syurga. Mereka duduk dengan senyum girang di kamar pengantin. Mereka bersandar di atas permadani yang sebelah dalamnya terbuat dari sutra. Mereka bersuka ria dengan huur yang bermata jeli. Memakan bermacam-macam buah-buahan. Mereka dikelilingi pemuda-pemuda tampan yang akan tetap muda, yang membawa berbagai gelas, cerek dan sloki berisi minuman yang diambil dari air yang mengalir. Mereka tidak pening karenanya, dan tidak pula mabuk. Buah-buahan dari apa yang mereka pilih. Dan daging burung yang mereka inginkan. Dan di dalam syurga itu terdapat huur yang bermata jeli, laksana mutiara yang tersimpan baik. Sebagai balasan dari apa yang mereka kerjakan. Diedarkan kepada mereka piring-piring dari emas dan piala-piala (tempat minum). Dan di dalam syurga itu terdapat apa saja yang diinginkan oleh hati dan sedap (dipandang oleh) mata, dan kalian kekal di dalamnya.
Demi Allah, dia dipanggil ke dalam syurga di pasar yang sepi. Tapi tidak banyak hamba-hamba Allah subhanahu wa ta’ala yang melirik kepadanya dan menanyakan harganya! Sungguh tidak masuk akal, bagaimana orang yang merindukan syurga bisa tidur nyenyak? Bagaimana pelamarnya tidak menyiapkan maharnya? Bagaimana kehidupannya di dunia ini tentram setelah ia mendengar seluk beluk tentang syurga ini? Bagaimana orang yang menaruh cinta kepada syurga bisa tenang….? Bagaimana jiwa orang-orang yang yakin bisa bersabar terhadap mereka? Bagaimana hati sebagian besar manusia tega berpaling daripadanya? Dan dengan apa orang-orang yang berpaling dan menjauh dari agama Allah subhanahu wa ta’ala menebus syurga tersebut?
[Tamasya Ke Syurga, Ibnul Qayyim Al-Jauziyah, Darul Falah Jakarta, 1425 H]
Komentar